Tuesday, November 24, 2015

Rindu Senandung Adzan Pangeran Muazin

Oleh: Denok Cinde Melati

Udara siang ini begitu terik, matahari memancarkan cahayanya dengan begitu sempurna. Tak ada awan dilangit, hingga birunya langit yang luas menghampar dengan cerah seperti lautan yang mengambang.  Panas siang ini begitu luar biasa, teriknya terasa sampai ke ubun-ubun walaupun jilbab pasmina berwarna pink berdegradasi ungu ini sudah menutupi kepalaku.
Hari yang kulalui akhir-akhir ini terasa begitu membosankan, tak ada kegiatan selama liburan semester ini yang dapat kulakukan. Hanya gentayangan dirumah saja setiap harinya seperti casper yang tak memiliki teman. Ya jelas saja hidup ini amat sepi dan membuat bosan, teman kampusku yang kebanyakan adalah anak kos mereka semua pulang ke kampung halamannya. Lalu apa yang akan kulakukan jika tak ada satu orang pun yang dapat kuajak untuk menghabiskan waktu menghilangkan kebosanan ini.
Hari ini kufikir lebih baik mencari suasana baru untuk menghibur diri, dari pada aku terus-terusan gentayangan seperti hantu dirumah. Kampus mungkin tempat yang tepat untuk hari ini, lagi pula aku rindu memandang hijaunya pepohonan disana, aku rindu udara sejuk disetiap sudut lingkupnya, aku rindu teman-temanku, aku rindu keluarga sukmaku, dan aku rindu seseorang yang hanya kukenal lewat suaranya itu.
“Akhirnya sampai juga”. Begitu memarkirkan motor didepan tempat yang biasa kami sebut kotak pensil ini, yaitu kesekretariatan SUKMA, aku melihat kesekelilingku, kampus ini begitu sepi, suasananya seperti tak terlihat ada tanda-tanda kehidupan. Hanya beberapa orang yang terlihat berlalu lalang, mungkin mahasiswa baru atau mungkin mahasiswa yang sedang sibuk dengan kegiatan organisasinya. Namun rasanya masih nyaman, masih menyejukkan, saat sepi kampus ini malah terlihat begitu indah. Pepohonannya begitu teduh dan sawah yang menghampar hijaunya begitu indah dilihat karena terpantul oleh cahaya matahari hingga hijaunya menjadi lebih cerah.
Sudah lewat tengah hari dan udara masih panas, kulihat jam diponselku ternyata sudah pukul 12.30, bukankah seharusnya diwaktu ini sudah memasuki jamnya solat dzuhur. Tapi mengapa tak ada adzan yang berkumandang dikampus ini. Biasanya sang muazin selalu tepat waktu mengumandangkan adzan. Terheran-heran aku berjalan menuju masjid kampus yang tak jauh dari tempatku duduk.
Sepi sekali, tak ada satu pun orang didalamnya. Aku lalu mengambil air wudhu dan solat sesegera mungkin, sehabis solat dan memanjatkan doa aku kembali ketempat yang tadi kusinggahi. Termenung dan menikmati kesendirian, aku memikirkan sesuatu. Ah ya aku lupa ini sedang libur semester. Jelas saja orang yang kurindukan suaranya itu tak mengumandangkan adzan hari ini. Mungkin dia sedang pulang juga ke kampung halamannya seperti temanku yang lain.
Ohh ya.. aku belum bercerita siapa dia yang kurindukan itu. Sebenarnya sudah sekitar setengah tahun lalu aku mengaguminya. Berawal dari kecemasanku hari itu, waktu itu aku sedang merasa terluka, hancur, dan rapuh. Apakah kalian ingat tentang kisah Pangeran GARDA-ku itu. Ya benar sekali, kala itu sore itu saat langit gelap dan hujan turun dengan deras, aku sedang patah hati karena Pangeranku itu kulihat bersama kekasihnya. Lalu aku termenung, duduk dibawah pohon yang kini kusinggahi, waktu itu aku membiarkan hujan membasahi seluruh tubuhku hingga merata. Sampai wajahku pucat, jari-jariku keriput, serta rambutku basah dan tak tergerai indah lagi.
Sore itu langit seakan murka, air yang diturunkannya dengan rata dan dalam debit yang kencang. Aku ingat sekali bahkan halilintar waktu itu menggelegar dengan kencang, dan derasnya hujan membuat kebisingan yang luar biasa. Namun tiba-tiba aku mendengar suara dari masjid itu, suaranya lirih namun merdu, hatiku yang gundah seketika nyaman mendengarnya, menenangkan dan amat meneduhkan. Suara itu, Suara adzan itu. Entah kala itu aku tak tau siapa yang mengumandangkannya, bahkan sampai sekarang pun aku masih tidak mengetahuinya.
Adzan yang berkumandang itu membuatku tanpa sadar mendekati sumber suaranya. Ya tapi tetap saja aku tak dapat melihat pemilik suara itu. Saat itu bahkan aku merasa tak pantas untuk memasuki masjid itu. Iya jelas saja, kondisiku kala itu amat tidak memungkinkan. Seluruh tubuhku basah kuyup, dan aku masih terlihat menyedihkan karena perasaanku. Jadi aku hanya menunggu diluar, sampai pemilik suara itu selesai solat ashar dan keluar dari masjid. Namun penantianku sia-sia, aku lupa bahwa diluar hujan deras. Tak mungkin ia akan keluar dicuaca seperti ini, lagi pula mana ada orang gila sepertiku yang rela berdiri ditengah hujan hanya karena merasa patah hati. Maka aku menyerah, dan dengan langkah gontai aku berjalan pulang dibawah langit yang masih menangis, lagi pula hatiku juga sudah mulai membaik karena mendengar suara adzan tadi.
Keesokan harinya dan hari-hari selanjutnya sampai saat ini aku selalu mendengarkan dengan khusuk senandung adzan yang dikumandangkannya. Suara adzan yang dikumandangkannya seolah mengetuk hatiku, dan menyadarkan kebodohanku. Seiring waktu berjalan aku mulai memperbaiki diriku, belajar menjaga tutur kataku, dan mulai menutupi auratku. Hingga kini insyaallah aku berniat dalam hati karena Allah, bahwa akan kututupi setiap helai rambutku dengan jilbab ini.
           Aku berterimakasih padanya, pada pemilik suara indah itu, karena adzan yang dikumandangkannya aku menjadi lebih baik. Berkali-kali aku ingin tau siapa dia, namun setiap ada kesempatan selalu saja ada hal yang menghalanginya. Mungkin aku memang tak diperbolehkan mengenalnya lebih dari aku mengenal suaranya saja. Hari ini dikampus jadi terasa berbeda, karena rasanya aneh berada disini tanpa mendengar suara adzan yang dikumandangkannya.
Sejak beberapa bulan terakhir dari pertama kali aku mendengar suara adzan yang dikumandangkannya itu. Ada rasa aneh yang berjalan-jalan dihatiku, aku sepertinya tau apa yang kurasakan ini, namun aku tak berani menyimpulkannya terlalu cepat. Rasa yang menjalar ini hampir mirip dengan yang kualami pada kasihku yang tak sampai yaitu sang Pangeran GARDA, tapi ada yang berbeda, rasa ini tak begitu menggebu-gebu, rasa ini takut jika akan berlarut, rasa ini tak berani punya keinginan untuk memiliki, dan rasa ini merasa tak pantas dan tak tau diri.
Aku merasa bingung mengapa hal ini dapat terjadi, aku bahkan tak tau siapa orang yang telah membuat rasa ini ada, rasa ini muncul hanya karena sebuah suara, aku bahkan sama sekali tak mengenalnya dan tak tau apa-apa mengenai dirinya seperti dulu saat aku tergila-gila pada Pangeran GARDA. Lagi pula aku ini siapa?? Aku merasa tak pantas memiliki perasaan ini. Dari suaranya saja aku tau, lelaki itu pasti pria yang baik dan soleh, sepertinya ia taat pada ibadahnya, bayangkan saja ia begitu mencintai agamanya dengan menganggap masjid itu sebagai rumahnya dengan setiap waktu mengumandangkan adzan tepat pada saatnya. Ia selalu mengingatkan para muslim akan kewajiban tanpa bosan.
Bagaimana mungkin aku dengan tak tau diri berani menyukai tanpa mengenalnya. Aku siapa, bena-benar tak pantas untuk rasa ini. Jelas saja tak mungkin bisa kuraih, aku hanya wanita yang baru beberapa waktu lalu sadar akan kewajiban-kewajiban yang harus kupenuhi. Aku wanita yang tadinya banyak berbuat dosa dengan sering kali mengabaikan dan meninggalkan kewajibanku sebagai wanita muslim. Aku bahkan pernah kehilangan jati diri hanya karena perasaan dihati. Aku begitu terlihat menyedihkan dan tak pantas.
Namun apa dayaku kini, rasa ini terus tumbuh dengan sejadi-jadinya, apalagi setiap kumandang adzannya terdengar, aku terenyuh semakin dalam. Ia berhasil membuatku cinta dan teramat cinta pada penciptaku. Tapi aku takut, aku takut perasaan ini akan membuatku lewat dari batasanku, hingga setiap kali rasa aneh yang dibuatnya bermunculan, aku harus cepat-cepat membendungnya.
Aku tak berani berbuat banyak dan aku tak bisa melakukan apa-apa dengan perasaanku. Aku hanya berharap padamu Tuhan, berikan jawaban untuk perasaan anehku ini, berikan titik terang dan petunjuk untukku mengendalikan hati ini. Dan aku berharap Tuhan, berikan yang terbaik untuk hambamu yang hatinya tersesat ini

Inovasi Baru Bagi Wisudawan Tahun 2015

Reporter: Reni Aprillia

Sukma_Polinela; Hari bersejarah mahasiswa Politeknik Negeri Lampung (Polinela) angkatan 2012 jatuh pada hari Selasa 29 September 2015. Dihari itu, kampus kita tercinta Politeknik Negeri Lampung dipadati berbagai macam kalangan baik itu mahasiswa Polinela maupun masyarakat luar. Polinela siap luncurkan 465 mahasiswa yang siap tempur didunia kerja, hal itu terlihat jelas dari senyum sumringah calon-calon wisudawan. Wajah-wajah bahagia tergambar dari setiap mahasiswa yang akhirnya dapat menikmati hasil dari perjuangan menempuh pendidikan selama 3-4 tahun dikampus tercinta.
Ada yang unik dan berbeda untuk pelaksanaan wisuda tahun ini dari tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini Polinela adakan inovasi baru dengan pelaksanaan wisuda 2 sesi. Sesi pertama dipagi hari untuk jurusan Budidaya Tanaman Pangan, Budidaya Tanaman Perkebunan, dan Teknologi Pertanian, sedangkan untuk sesi kedua disiang hari jurusan Ekonomi dan Bisnis, Peternakan, ditambah PDD Rejang Lebong.
Munculnya inovasi 2 sesi untuk pelaksanaan wisuda tahun ini dikarenakan minimnya kapasitas Gedung Serba Guna (GSG) Polinela. Hal ini tidak sebanding dengan jumlah mahasiswa yang akan diwisuda tahun ini. Sebelumnya Polinela pernah mencoba inovasi-inovasi lain seperti pelaksanaan wisuda yang dilakukan di kampus Universitas Lampung dan pelaksanaan wisuda diluar ruangan kampus Polinela seperti tahun lalu. Namun, hal itu dinilai kurang efektif, pelaksanaan wisuda diluar ruangan tahun lalu contohnya, dirasa tidak khidmat, tidak nyaman, dan suasana wisuda kurang dirasakan. Selain itu, ada beberapa orangtua mahasiswa yang komplain akibat pelaksanaan wisuda tahun lalu. Oleh sebab itu, untuk mencari jalan terbaik maka pelaksanaan wisuda tahun ini dilakukan dalam 2 sesi.
Dari segi persiapan tentunya panitia harus bekerja 2 kali, seperti persiapan untuk sesi kedua setelah sesi pertama selesai. Hal itu sangat menguras tenaga para panitia, namun demi kelancaran acara dan kenyamanan wisudawan persiapan ini harus dilakukan secara matang, seperti yang telah diungkapkan ketua panitia pelaksanaan wisuda tahun ini Drs. I Wayan Suwindra, M.M. “Harus dipersiapkan dengan benar-benar, seolah-olah dipersiapkan dalam sehari tetapi pelaksanaannya dalam 2 sesi. Ini untuk memberikan kenyamanan dan menyenangkan wisudawan serta para orangtua.”
Dari segi keamanan, Polinela kerahkan semua personil keamanan sebanyak 37 orang untuk mengatur kelancaran acara. Namun ada sedikit kendala, seperti kemacetan yang terjadi di pelataran depan Gedung Serba Guna Polinela, “diperkirakan jam 12 siang wisuda pagi sudah keluar, namun ternyata jam 12 baru keluar dan yang wisuda siang sudah datang sehingga terjadi macet. Benturan sudah diperkirakan tetapi dari rekan kita alhamdulilah koordinasinya lumayan bagus jadi bisa teratasi,” ujar Muhammad Fauzi salah satu personil keamanan Polinela.
Tahun ini tidak 100% mahasiswa Polinela diwisuda secara bersamaan. Ada beberapa dari mereka yang harus menunggu wisuda tahun depan. Seperti program studi PMIP, TSL, Perikanan, dan Manajemen Informatika yang paling banyak untuk tahun ini. Tidak diwisudanya beberapa mahasiswa tahun ini dikarenakan belum menyelesaikan ujian sampai batas yudisium tanggal 18 Agustus 2015. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi, seperti faktor dari mahasiswa dan faktor dari dosen. “Mereka harus bisa berkompromi satu sama lain. Adanya batas tanggal untuk membantu mahasiswa mengatur diri. Dosen juga terkadang ada kegiatan keluarga jadi semua pihak mempunyai peranan, namun mahasiswa tidak harus bertemu untuk berkonsultasi, lewat email, by phone itu dimanfaatkan atau tidak,” tegas Ir.Yatim Rahayu Widodo,M.Sc. selaku Wakil Direktur 1.
Disisi lain ada kebanggaan bagi Polinela dari wisuda tahun ini yaitu diraihnya mahasiswa terbaik untuk program Ahli Madya dengan IPK sempurna 4.00 dari program studi Hortikultura Mafaza ‘Ashri Ridzaningsih. Sedangkan untuk program Sarjana Terapan diraih oleh Laras Fitriyani dari program studi Produksi dan Manajemen Industri Perkebunan dengan IPK 3.84. Selain itu ada beberapa mahasiswa yang telah bekerja sebelum wisuda. Ada 26% wisudawan yang telah bekerja sekitar 115 orang dari berbagai program studi. Setiap tahunnya selalu ada mahasiswa yang telah bekerja sebelum diwisuda. Hal ini membuktikan bahwa mahasiswa Polinela baik terserap di pasar kerja, “itu nilai positif, nilai tambah ketika kita diakreditasi. Jadi semakin banyak wisudawan yang telah bekerja sebelum wisuda lebih baik, itu yang harus kita upayakan,” ujar Ir. Bina Unteawai, M.P selaku Senat Polinela.
Tak ada yang berbeda, sesi pertama dengan sesi kedua, sambutan Direktur ada, sambutan Wakil Direktur ada, pembacaan mahasiswa terbaik pun ada, hanya sambutan Wakil Gubernur yang tidak ada. Nampaknya hal itu tidak masalah. Baik sesi pertama maupun sesi kedua acara berjalan dengan lancar walaupun ada sedikit kejanggalan yang dirasakan wisudawan. “Wisuda tahun ini lumayan lancar, walaupun 2 kali diadakan namun menurut saya sedikit kurang meriah dan juga perayaan wisuda tahun ini tidak bersamaan satu angkatan jadi sedikit kurang rasanya” jelas Gerry Sasalo Putra mahasiswa program studi Produksi Tanaman Perkebunan. Hal lain dirasakan oleh Edo Lazuardi Persada mahasiswa program studi Akuntansi, “wisuda tahun ini berjalan lancar, cuma karena kebagian siang jadi kondisi kurang kondusif, cuaca panas dan waktu mulai acara terlalu telat.”
Banyak harapan yang telah diapung untuk pelaksanaan wisuda tahun ini, salah satunya datang dari Gerry, ia mengutarakan harapannya, “wisuda dilakukan secara bersamaan dan kalau memang bisa kedepannya gedung GSG yang ada bisa menampung seluruh wisudawan.” Harapan lain diutarakan bapak Yatim “harapannya lancar, ketika disebutkan siapa yang sudah bekerja disuruh berdiri ya berdiri. Untuk pelaksanaannya tetap 2 sesi hanya waktunya yang berbeda, beda hari, minggu atau bulan akan dievaluasi secara menyeluruh. Dari evaluasi ini kita bisa melangkah lebih bagus” pungkasnya.

Hajat Islamic Polinela



Reporter : Sendi Putra Soba
                Selvy Crisno W

                  Nazifatu W

Sukma_Polinela; PILAR (Polinela Islamic Fair) 2015 adalah salah satu acara incidental UKM Al-Banna Politeknik Negeri Lampung (Polinela) yang rutin diadakan setiap tahunnya. Pada tahun-tahun sebelumnya, acara ini bernama ALIF (Al-Banna Islamic Fair), yang pertama kali diselenggarakan pada tahun 2010, kemudian dilanjutkan Alif berikutnya sampai dengan Alif 5 pada tahun 2014 lalu. Sebenarnya bentuk dan konteksnya PILAR dan Alif sama tidak ada yang beda, hanya saja dibagian Pilar ini  memiliki kegiatan yang lebih banyak dan bermacam-macam diantaranya Ada Islamic Competation, Bedah Buku, Seminar Kemuslimahan dan silahturahmi Akbar untuk alumni-alumni UKM Al-banna, itulah yang membedakan Pilar dan Alif. Selain itu, yang membedakan Alif dan Pilar yaitu kalau Alif membawakan nama Al-banna sedangkan Pilar membawakan nama Polinela dalam kegiatan ini.
Jika tahun sebelumnya Alif mengambil konsep Student Competition (Perlombaan antar pelajar) se-Lampung dengan cabang Da’I MTQ (Musabaqah Tilawatil Qur’an), AKA (Al-Banna Kids Award) kemudian bazaar Expo dan seminar keputrian. Pada tahun 2015 ini, selain merubah nama acara. UKM Al-banna melakukan inovasi pada rangkaian acaranya. PILAR 2015  mengambil tema “Youth, Expression, and Creation” yang artinya pemuda, ekspresi, dan kreasi yang diselenggarakan pada tanggal 24 Oktober hingga 7 November 2015. Acara ini mengambil 5 rangkaian acara yaitu Islamic Fair (24-25/10), Bedah Buku (31/10) yang mengisi materi ini adalah Setia Furqon Kholid, Seminar Keputrian (1/11) yang bertemakan “Beauty Inside and Inspiring Qutside”, Bazar Expo, dan sebagai penutup atau akhir acara yaitu Silahturahmi Akbar bersama keluarga besar UKM Al-banna dari angkatan pertama hingga sekarang.
Ada 11 cabang perlombaan yang diadakan dalam Pilar 2015 khususnya dalam rangkaian Islamic Competation ini diantaranya Da’I Junior, Gelana (Gelaran Nasyid Polinela), Cerpen Islami, Komik Islami, Hunting Photo, Dongeng Inspirasi Islami, PKA (Polinela Kids Award) dan MTQ yang dibagi lagi dalam beberapa cabang lomba yaitu Taltil Qur’an, Tilawatil Qur’an, Iljir Qur’an dan Tahmil Qur’an. Dari seluruh cabang yang diselenggarakan, cabang Cerpen dan Komik Islami yang merupakan cabang tingkat Nasional, Gelana merupakan cabang tingkat se-Sumbagsel. Peserta yang mengikuti acara ini ada dari pelajar TK, SD, SMP, SMA, Mahasiswa dan masyarakat umum se-Provinsi Lampung. Ada sekitar ± 500 peserta yang mengikuti perlombaan dalam Islamic Competation.
Kegiatan Pilar 2015 ini, berlangsung selama 3 minggu tepatnya setiap hari sabtu dan minggu. Pada minggu pertama diadakan acara Islamic Competation, pada minggu kedua dilakukan kegiatan Bedah Buku, dan Seminar Keputrian, lalu untuk minggu ketiga dilaksanakan acara Silahturahmi Akbar yaitu himpunan dari alumni UKM Al-Banna angkatan pertama hingga sekarang.
Tujuan dari kegiatan Pilar 2015 ini yaitu, “Bertujuan untuk memfasilitasi dari setiap pemuda untuk mengekpresikan dan mengkreasikan semua yang ada potensi dari mereka. Tentunya untuk hal yang positif salah satunya adalah MTQ atau Da’i. Dari juara satu peserta lomba Da’i akan dipromosikan ke Aksi Indosiar, ini dari juri yang merekrutnya dan peserta tersebut akan dibina lebih dalam ilmu islam,” ujar Zakfar Shidiq selaku Ketua Pelaksana Pilar 2015.
Manfaat yang didapatkan bagi semua kalangan SD hingga mahasiswa adalah, “Pertama, bagi peserta, bagaimana menumbuhkan semangat kompetisi dalam hal penanaman-penanaman nilai islam. Kedua, menghidupkan kembali syiar keislaman untuk semua kalangan, baik untuk tingkat SD maupun tingkat mahasiswa. Ketiga, menumbuhkan daya kreatifitas bagi semua kalangan didalam mengaplikasikan kreatifitas itu dalam bentuk nilai-nilai islam. Dan bagi kita khususnya kampus atau mahasiswa, adalah untuk memberikan sebuah bentuk kontribusi didalam mensyiarkan serta memperkenalkan kampus tercinta yaitu kampus Polinela kepada seluruh pihak, bahwasannya kampus Polinela ini ikut berkontribusi didalam penanaman-penanaman nilai-nilai islam khusunya bagi bangsa dan Lampung,” ungkap Tekat Karyono selaku Ketua Umum UKM Al-Banna saat ditemui diruangannya.
Setiap sesuatu yang dilakukan pasti memiliki kendala masing-masing, tidak hanya dari orang pribadi, namun kegiatan atau acarapun memiliki kendala dalam melaksanakannya. Kegiatan Pilar 2015 tersebut memiliki kendala dalam menjalankannya, Tekat Karyono menjelaskan bahwa, “Terkait kendala, kendalanya dikatakan banyak, tidak. Hanya saja kendala-kendala teknis yang sifatnya klasik seperti kepanitian dan perlengkapan, karena kegiatannya besar maka dibutuhkan amunisi yang banyak.” Lalu Zakfar Shidiq menambahkan kendala yang dialami, “Setiap kegiatan pasti ada kendala, dalam hal tenaga panitia yang harus. Karena, sebelum acara Pilar diselenggarakan kami telah melakukan kegiatan AL-banna Camp dan setiap kegiatan Pilar ini memiliki waktu hanya 1 minggu setiap kegiatan, jadi butuh tenaga yang lebih untuk melaksanakannya.” Namun, tidak hanya masalah kepanitian dan tenaga yang lebih saja, yang menjadi kendala dalam kegiatan ini adalah redupnya lampu atau mati lampu merupakan kendala besar dalam acara yang diselenggarakan dalam kegiatan pilar lebih tepatnya pada saat acara Islamic Competation (25/10) yang dilaksanakan kemarin.
Dari yang telah dilaksanakannya beberapa acara Pilar, tekat berpendapat bahwa, “Pertama kita bersyukur, karena acara tersebut bisa berjalan dengan baik dan sesuai yang kita harapkan. Untuk kegiatan ini bukan semata-mata mengatasnamakan UKM Al-banna tapi UKM Al-banna juga ingin berkontribusi dalam mengharumkan Polinela ini.”  Harapan kedepannya untuk Pilar tahun depan yaitu, ”Harapan Pilar untuk kedepan yaitu tujuan yang paling utama itu melihat potensi dari anggota untuk dijadikan pengurus tahun depan dalam mengurus organisasi untuk acara-acara besar sebagaimana sigap mereka untuk mengatasi masalah-masalah yang ada di Pilar itu. Sehingga tahun depan, kita dapat memilih pengurus-pengurus penerusnya. Karena Event kita ini dalam dunia dakwah, kita kembangkan sumber daya yang ada dimasing-masing sekolah, kami fasilitasi mereka agar mereka bisa berkembang. Harapannya Pilar ini menjadi Icon Polinela bukan Al-banna lagi tapi pengurusnya Al-banna namun hajat besarnya Polinela,” jelas Zakfar.
Dari kegiatan yang telah diselenggarakan, bisa dibilang sukses karena dari kesiapan panitia dalam menjalankan acara tersebut. “Kegiatan ini alhamdulilah berjalan sukses, harapan kedepannya akan lebih baik lagi. Hal-hal yang perlu ditingkatkan, ditingkatkan lagi,” tuntas Tekat Karyono. (*Dini)

Lampung Kirim Criket untuk Pra PON Bandung

Reporter : Noprendi Wira

Sukma_Polinela; Pra-PON adalah ajang kualifikasi PON (Pesta Olahraga Nasional). Salah satu ajang yang mewakili lampung adalah Criket. Criket adalah olahraga yang sangat populer di india, di Indonesia sendiri belum banyak masyarakat yang tahu tentang criket itu sendiri.
Pra pon yang kali ini digelar di jawa barat 18-28 oktober 2015 adalah tantangan untuk tim criket lampung untuk lolos di PON Jawa Barat 2016 mendatang. Untuk criket lampung sangat difavoritkan untuk lolos di PON Jawa Barat 2016, disampaikan oleh Muhammad Apriono selaku Kadib criket Polinela bahwa “tim lampung mempunyai potensi dan materi pemain yang baik untuk lolos dalam ajang PON di Jawa Barat tahun depan.”
“Kita patut bangga sebagai mahasiswa Politeknik Negeri Lampung (Polinela) bahwa kampus kita ditunjuk langsung oleh PCI (Persatuan Criket Indonesia) sebagai tempat pengembangan dan sarana latihan criket di provinsi Lampung” tambah Apriono. Disampaikan juga oleh Apriono bahwa sistem permainan criket sendiri memakai sistem poin tertinggi dari 8 tim langsung lolos PON 2016 dan harapnys bahwa tim kriket putra dan putri lampung bisa lolos PON dan mendapatkan medali dalam ajang ini.

Cabang olahraga criket juga memerlukan dana yg tidak murah, satu set peralatan kriket mecapai dana tidak kurang 10 juta, “kami sebagai atlet sangat bangga bisa mewakili lampung tapi kami juga kecewa karena support dari pemerintah sendiri khususnya dana untuk peralatan kurang sama sekali, kami tidak sanggup untuk membeli peralatan yg sangat mahal dan kami merasa sudah kalah dalam segi finnancial dibandingkan tim-tim lainnya yang ikut cabang criket. kalau untuk pemantapan sih kami oke dalam seminggu, kami 4 kali latihan di lapangan Wiyatama dan Polinela dan kami siap berjuang untuk lolos dan meraih mendali amiin.” tutup ega yogaswara sebagai atlit tim criket lampung. (Triasdi)

BEM Polinela Ciptakan Pemimpin yang Berkarakter

Reporter : Ponijah

Sukma_Polinela; Dalam mewujudkan pemimpin yang berkarakter telah dilaksanakan kegiatan LKMMTD. LKMMTD adalah Latihan Kepemimpinan Menejemen Mahasiswa Tingkat Dasar. Acara ini merupakan program kerja dari kementerian social politik Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Politeknik Negeri Lampung (Polinela). Acara ini adalah latihan mengenai dasar-dasar menjadi seorang pemimpin.
LKMMTD dilaksanakan selama 3 hari mulai dari tanggal 25-27 September 2015 di Politeknik Negeri Lampung tepatnya di gedung QB 1 Polinela. Acara ini dimulai dari Jumat malam tanggal 25 September 2015 dengan diisi acara ramah tamah antara peserta LKMMTD. Acara ini diikuti oleh perguruan tinggi se-Sumbagsel. Ada 6 Instansi yang mengikuti acara ini dengan jumlah peserta sebanyak 58 orang.
LKMMTD yang diadakan oleh BEM POLINELA diisi dengan berbagai kegiatan yang melatih tentang dasar-dasar bagaimana menjadi soerang pemimpim. Dimana kegiatan-kegiatan tersebut antara lain adalah stadium general, teknik lobi, stimulasi sidang, seminar pencerdasan dan Talk Show. Kegiatan-kegiatan ini bertujuan untuk membentuk mahasiswa-mahasiswa menjadi seorang pemimpin yang berkarakter seperti yang dikatakan oleh Erwan Dwi Prastiko selaku ketua pelaksana, “Acara ini merupakan pelatihan dasar mengenai menjadi seorang pemimpin yang diharapkan dapat membentuk mahasiwa menjadi pemimpin yang berkarakter.“

LKMMTD yang diadakan oleh BEM Polinela berjalan lancar “acara ini berjalan lancar hanya saja ada beberapa kendala, namun hal tersebut sudah dapat teratasi”, tambah Erwan. Respon peserta yang mengikuti acara ini sangat baik  “acara ini sangat bagus dan diharapkan kedepannya lebih baik dan tetap berjalan lalu ada beberapa hal yang harus diperbaiiki dalam persiapan stimulasi sidang”, tegas iko kurnia selaku peserta. Diharapkan dari diadakannya LKMMTD, dapat membangun jiwa kepemimpinan bagi peserta mahasiswa yang mengikutinya. (Triasdi)

Monday, November 23, 2015

Pansus, Sistem Baru Pemira

Reporter : Erzi Riska Putra

Sukma Polinela; Panitia khusus atau yang sering disingkat  Pansus merupakan badan independen untuk melaksanakan Pemilihan Umum Raya (Pemira). Panitia khusus pada tahun ini memiliki perbedaan dari tahun-tahun sebelumnya,  jika pada tahun sebelumnya panitia hanya berasal dari Badan Pelaksana Pemira (BP Pemira), yang anggotanya terdiri dari anggota Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM). Namun, untuk saat ini seluruh mahasiswa mempunyai kesempatan untuk menjadi Panitia Khusus, tidak dibatasi oleh Jurusan dan Program Studi yang ada.
Syarat-syarat menjadi anggota pansus diantaranya menyerahkan foto 3x4 sebanyak 2 lembar, foto copy KTM atau KTP, surat keterangan baik, baik surat dari jurusan atau dalam bentuk KHS, serta tanda tangan di atas materai 6000. ”Sesuai dengan UU Pemira tahun 2015 revisi hasil sidang paripurna setengah periode, dikatakan anggota pansus minimanl 50 dan maksimal 60 orang, apabila kuota yang sudah ditentukan tidak tercapai maka selanjutnya akan dikembalikan kepada MPM untuk mengatur jalannya Pemira tersebut,” ujar Sigit Pramono selaku Ketua Umum MPM.
Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, pada tahun ini Pemilihan Umum Raya tidak hanya ditujukan untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden Mahasiswa saja, namun juga diterapkan dalam pemilihan Gubernur, Wakil Gubernur, dan Legislatif anggota MPM. ”Harapannya dalam perubahan ini kita dapat menyelenggarakan kedaulatan pemerintahan KBM Polinela yang demokratis, yang pelaksanaannya secara nyata sehingga masing-masing mahasiswa itu memiliki hak suara, dan tidak ada penindasan ataupun penekanan dari pihak manapun sehingga akan terlaksana pemilihan yang umum, secara langsung, rahasia, bebas, jujur, dan adil,  jadi ini merupakan sarana perwujudan kedaulatan mahasiswa guna menghasilkan pemerintahan mahasiswa yang demokratis berdasarkan Pancasila, UUD RI, Tri Dharma Perguruan Tinggi, AD-ART KBM Polinela,” tambah Sigit.
Panitia khusus ini  dibentuk oleh tim khusus atau tim verifikasi pansus,  bukan dari MPM, HMJ, BEM, akan tetapi orang yang sudah ditunjuk dalam UU Pemira yaitu Pimpinan MPM, Presiden dan Wakil Presiden Mahasiswa, Menteri Dalam Negeri, dan Gubernur HMJ. Tim verifikasi ini yang nantinya akan  memverifikasi berkas-berkas anggota pansus yang mendaftar, setelah selesai verifikasi, tim verifikasi akan mengeluarkan berita acara, berita acara tersebut nanti akan disampaikan kepada seluruh mahasiswa, setelah itu akan diberikan kepada  MPM, dan selanjutnya akan dilakukan proses pelantikan menjadi anggota pansus. Berbeda  dari periode sebelumnya, dengan ada nya perubahan ini masih terdapat kesulitan karna banyak mahasiswa yang belum banyak mengetahui. “Masih banyak sistem-sistem yang memang belum diketahui oleh khalayak ramai, baik dari instansi- instansi yang terkait seperti, HMJ, BEM, Ormawa yang ada di Politeknik Negeri Lampung (Polinela) ataupun orang-orang yang akan merasakan hal-hal ini secara langsung, untuk sosialisasi sudah dicoba, baik pembukaan stand, maupun penyampaian pada saat apel hari senin dan jum’at,” tuntas Sigit. (*Triasdi)

Lulusan Terbaik dari Hortikultura


Reporter : Andreas Tata Jahtra

Sukma_Polinela; Wisuda tahun 2015 Politeknik Negeri Lampung (Polinela) meluluskan mahasiswi yang bernama Mafaza ‘Ashri Ridzaningsih dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna (4.00), dengan masa belajar 3 tahun. Prestasinya ini bukan yang pertama kali yang diraih oleh lulusan mahasiswa/i di Politeknik Negeri Lampung, namun apa yang telah dicapainya membuat banyak orang berdecak kagum dan bisa menjadi motivasi positif bagi orang lain. Dengan IPK 4.00 dengan kata lain disetiap semesternya mendapat IP 4.00 sehingga mahasiswi yang akrab dipanggil Mafaza ini menjadi mahasiswa berprestasi (Mawapres) tahun wisuda 2015. Mafaza berkata “ketika ada tugas usahakan untuk benar-benar dikerjakan semaksimal mungkin dan prestasi ditunjang oleh sikap, selain oleh nilai sikap juga mempengaruhi.”
Mafaza ‘Ashri Ridzaningsih, merupakan wajah baru sebagai lulusan dengan IPK 4.00 pada wisuda Polinela tahun akademik 2015/2016. Mafaza merupakan lulusan peraih IPK tertinggi pada wisuda tersebut. Dia merupakan lulusan dari program study D3 Hortikultura, Politeknik Negeri Lampung ternyata bukan seorang “kutu buku” tetapi ternyata aktif dalam organisasi. Ia juga aktif dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampusnya yaitu UKM Al-Banna.
Mafaza mengaku memang cukup disiplin dalam belajar dan membagi waktu karena padatnya jam kuliah. ”Kalau tips si cuman satu sebenarnya yaitu fokus, setiap orang mempunyai cara belajar yang berbeda-beda, kalau saya terkadang pakai sistem SKS (Sistem Kebut Semalam) juga, tapi paling sering fokus, kalau lagi kuliah ya fokus kuliah jangan mikiran yang lain,” tambah Mafaza.
Berbekal doa dari kedua orangtuanya, Mafaza berharap dapat melanjutkan kuliahnya di Institute Pertanian Bogor (IPB), “rencananya mau lanjut ke S1 tapi untuk sekarang ini saya mau kerja dulu“ jelas Mafaza yang becita-cita jadi ustadzah.
“Semua orang punya potensi be your self, kembangkan kemampuan diri masing-masing, karena setiap orang punya kemampuan berbeda” tutur mafaza. Kiprahnya yang berprestasi akademik baik dan juga berorganisasi baik dapat menjadi teladan dan contoh bagi mahasiswa atau adik tingkatnya. Prestasi yang berhasil ia raih sebagai terbaik, ingin dipersembahkan kepada orang tuanya. (*Dini)