Sunday, July 5, 2015

Kurangnya Dana Praktikum Bagi Mahasiswa Tepa

Reporter : Fitri Astuti

Sukma_Polinela; Politeknik Negeri Lampung (Polinela) adalah  perguruan ting­gi vokasi di lampung. ter­­­diri dari 5 Jurusan dan 13 Pro­gram Studi. Politeknik yang mengutamakan kemampuan praktek kerja lapangan yang membuat mahasiswa akan te­rampil didunia pekerjaan. Teknologi Pangan merupakan salah satu Program Studi Politeknik Negeri Lampung atau yang sering dikenal dengan TEPA (Teknologi Pangan), mahasiswanya yang berkompetensi dalam meneliti dan mengolah makanan dan hasil perkebunan Polinela.
Tepa yang setiap harinya bergulat dengan bahan-bahan kebutuhan manusia, perkebunan dan pengolahan jenis makanan lainnya. Semua kegiatan itu membutuhkan dana yang tak sedikit, mereka harus membeli bahan-bahan yang segar, bermutu baik, untuk dianalisa dengan  mendapatkan hasil yang memuaskan. Hasil produk yang telah mereka uji seperti Nugget Ikan, Dendeng, Roti Basah dan lain-lain. Tak jarang mereka menjual hasil hasil produknya kepada mahasiswa. Hasil dari penjualan produk tersebut akan dikembalikan  ke Lab. Pihak Lab sendiri memutarkan hasil dari penjualan praktek tersebut untuk kebutuhan pembelian bahan-bahan selanjutnya. Na­mun, saat ini  Tepa mengalami sedikit kendala dalam hal pendanaan biaya praktikum. Berbeda dengan tahun lalu, praktikum Tepa berjalan dengan baik dari tahun ke tahun Program Studi ini semakin banyak peminatnya, sehingga kuota mahasiswa Tepa bertambah. Hal ini dapat diliat dari mahasiswa Tepa yang terdapat 2 kelas untuk semester 2 dan 4 serta ditambah lagi mahasiswa Pemda 1 kelas, sehingga mahasiswa yang berada di Program Studi Teknologi Pangan begitu banyak.
Dengan mahasiswa Tepa yang bisa dikatakan banyak, wajar saja dana praktek Tek­nologi Pangan kurang.  Penambahan dana praktek yang hanya sekitar 10% dari dana tahun lalu, hanya  untuk mengantisipasi bahan praktek naik, inipun tak cukup untuk membeli kebutuhan bahan praktek tersebut. Untuk memperoleh dana praktikum dosen harus merinci kebutuhan biaya praktek perkepala mahasiswanya yang kemudian diajukan ke PJ (Penanggung Jawab) mata kuliah yang kemudian diusulkan ke Kepala Lab dan kemudian Akademik yang akan memberikan dana praktikum tersebut.
Dengan melalui tahap yang sedikit rumit tersebut seharusnya dosen-dosen bisa memperkirakan pengeluaran dana praktikum untuk semes­ter genap ini dan sebelum nya telah diberitahu bahwa akan ada mahasiswa baru dari Pemda. Dengan kekurangan dana praktikum tersebut mahasiswa Pemda pun ikut merasakan sedikit kendala dalam pendanaan kegiatan praktikum. Mereka menggunakan dana Reguler meskipun pada akhirnya dana tersebut diganti oleh UPT. “Terkadang  dosen Teknologi Pangan mengeluarkan biaya untuk praktek kita, beliau membeli bahan sendiri untuk praktikum kita“, ujar Yayuk Tri Rahayu salah satu mahasiswa Teknologi Pangan.
Dengan adanya dosen yang seperti ini cukup membantu mahasiswa Tepa untuk melakukan kegiatan praktikum. Perencanaan yang kurang matang tanpa mengubah dana Tepa dari tahun lalu, mengakibatkan Kekurangan dana praktek yang terjadi dari minggu 12 sampai dengan minggu ke 16. 
Kepala Lab pun mengambil kebijakan untuk mengurangi bahan-bahan praktikum, Hal ini juga menuntut mahasiswa Teknologi Pangan untuk melakukan praktek secara Demostrasi dan dialihkan ke Responsi. ”Kita penyelanggara pendidikan vokasi yang mengutamakan keterampilan dan skill, jadi tolong deh dana praktek harus dipenuhi”, tuntas Chandra selaku Kepala Program Studi. (*Tri Asdi)




Dana Minim, EPA Tetap Jalan


Reporter : Dwi Ayu Kusuma Wardani

                 Tri Asdi

Sukma Polinela; EPA (English Proviciency Award) kegiatan tahunan terbesar yang  diselengarakan oleh english club selama tiga hari (1-3/5). Tiga hari selama kegiatan diadakan tiga cabang perlombaan, yaitu scra­bble, story telling, dan debate. Namun, perlombaan yang tingkat nasional hanya scrabble, sedangkan untuk perlombaan story telling dan debate hanya tingkat Sumatera bagian selatan. Jumlah peserta yang mengikuti perlombaan yakni sebanyak 64 peserta yang terbagi atas 30 peserta mengikuti srabble, debate sebanyak 30 peserta, dan story telling sejumlah 4 peserta.  Tema yang diangkat kali ini adalah “Improve our quality”. Maksud dari tema ini, yaitu berani mengembangkan dan memberikan kualiatas yang terbaik selama per­lombaan berlangsung. Bagi peserta lomba yang ber­asal dari luar lampung di­sediakan penginapan yang bertempat di Wisma Bandar Lampung.
Hari pertama EPA dimulai dengan pembukaan, yang dilanjutkan lomba scrabble dengan jumlah peserta 24 peserta intermediate dan 6 peserta master. “Untuk inter­mediete rangking scrabble <1200. Untuk yang master peserta harus memiliki peringkat >1200. Namun, ada ke­mungkinan untuk yang intermediete mengikuti tingkat master asalkan sering ber­main dan sering menang karena akan berpebearuh pada peringkat”, ungkap Indra Arista selaku ketua pelaksana.
Hari kedua pelaksanaan, diadakan lomba story telling dan debate. Tetapi untuk lomba scrabble dan debate masih terus berlanjut hingga hari terakhir, karena pelaksanaannya yang memakai metode seleksi. Sedangkan storry telling hanya memakan waktu satu hari dan langsung mendapatkan pemenangnya.
Hari terakhir atau hari ketiga, melanjutkan perlombaan hari sebelumnya pada hari pertama dan kedua. Untuk hari terakhir ini dipakai mencari pemenang untuk perlombaan scrabble dan debate.
Banyak kendala yang dihadapi selama persiapan guna menyukseskan acara ini. “Inikan acara senasional, tapi akan memalukan jika tidak memiliki sponsor. Terkendala mengajukan proposal-proposal dana ke perusahaan-perusahaan untuk mendapatkan tambahan dana sedikit kesulitan. Sebenarnya dana yang dibutuhkan 56 juta, namun dana yang tersedia hanya 20 jutaan. Meski dana tidak terkumpul sepenuhnnya, acara harus tetap jalan walau banyak yang dipangkas”, lanjutnya.
“Kendala yang kedua adalah jumlah peserta, peserta yang diluar Lampung agak sulit karena jaraknya yang jauh, jadi cuma Jakarta yang mendaftar. Sebenarnya sudah diberikan informasi dari kami, tapi mungkin ada masalah dari pesertanya sendiri yang terkendala dana. Pada awalnya peserta  sangat berantusias dan sudah ingin mendaftarkan diri, namun saat mendekati hari pelaksanaannya peserta tidak jadi mengikuti lomba karena pihak sekolah tidak memberikan dana dan izin”, tambahnya.
Ada harapan jika story telling dan debate  dapat diadakan dalam tigkat nasional. Namun karena alasan yang sama, yaitu peserta dan dana yang tidak mencukupi sehingga pelaksanaannya hanya tingkat sumbagsel. Selain itu, perlombaan yang hanya tingkat SMA maka ruang lingkup yang awalnya ingin secara tingkat nasional hanya dilaksanakan tingkat sum­bagsel. Total hadiah yang diperebutkan senilai 6,5 juta untuk seluruh perlombaan. Kategori pemenang lomba yaitu juara 1, 2, dan 3 untuk kategori umum dimana untuk peserta perempuan atau pria tidak dibedakan. Dan untuk kategori debate terdapat pemenang tambaha yaitu sebagai best speaker.
Tanggapan Arif mengenai acara tersebut, “Utuk acara ini dapat dibilang sukses dari acara-acara sebelumnya. Tapi untuk kegiatan selanjutnya butuh kerja sama tim yang baik karena sempat ada sedikit konflik antar anggota namun dapat diatasi. Sarannya kedepan agar dapat menjalin kekeluargaan tidak saling menyalahkan, saling iklas dalam melakukannya, serta bekerja secara professional”.
“Saya sangat bangga karena tahun ini kegiatan EPA kembali menjadi kegiatan nasional. Harapan selanjutnya kami dapat meningkatkan jumlah peserta dari tahun ini, serta mempertahankan kegiatan ini sebagai kegiatan nasional yang dapat membanggakan Polinela”, tanggapan Rizki sebagai ketua umum. (*Tri Asdi)




Polinela Ikut Ajang Nasional

Reporter : Ponijah

Sukma_Polinela; Telah di­lak­sanakan seleksi lomba MTQ (Musabaqah Tilawatil Qur’an) untuk tingkat nasional di Gedung QB2 Politeknik Negeri Lampung (Polinela). Lomba MTQ  merupakan lomba nasional yang diadakan oleh DIKTI serta kegiatan rutin 2 tahun sekali, dimana untuk tuan rumahnya selalu bergantian. Lomba MTQ Nasional ini, diikuti oleh perguruan tinggi yang berbasis konvensional. Serta untuk perguruan tinggi yang berbasis islam tidak diizinkan mengikuti semua cabang lomba namun, hanya diizinkan mengikuti dua cabang lomba yaitu aplikasi komputer Al-Qur’an dan debat bahasa inggris kandungan Al-Qur’an. Hal ini, karena dikhawatirkan akan mengendurkan semangat peserta yang latar belakangnya bukan berbasis islam. (30/5)
Lomba MTQ terakhir kali diadakan di kota Padang, dan kali ini akan diadakan di Universitas Indonesia (UI) tepatnya di Jakarta pada tanggal 1-8 Agustus 2015. Cabang lomba yang dilombakan ada 13 cabang. Dari 13 cabang yang dilombakan, Polinela hanya akan mengikuti 8 cabang lomba. Pengalaman ini merupakan yang pertama kali bagi Polinela. Namun, sebenarnya pada tahun 2013 Polinela akan me­ngirimkan 2 orang mahasiswa untuk mengikuti lomba MTQ di Padang. Karena, ada kendala akhirnya tidak dapat diberangkatkan.
Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Al-Banna telah diberi amanah oleh anggota Direksi untuk menyelenggarakan se­leksi yang akan mengikuti lomba MTQ di Universitas Indonesia. Se­leksi tersebut diikuti oleh 25 orang. Akan tetapi, hal ini merupakan jumlah yang sedikit dari seluruh jumlah mahasiswa yang ada di Polinela dan kebanyakan yang mengikuti merupakan dari anggota UKM Al-Banna.
Ketua UKM Al-Banna Tekat Karyono me­nga­takan, ”Sedi­kitnya pe­serta seleksi karena ku­rangnya publikasi, dimana banyak mahasiswa yang baru mengetahui tentang lomba ter­sebut setelah seleksi diadakan. Padahal publikasi telah dilakukan dengan memasang template atau brosur dan telah diberitahu ketika apel”.
Seleksi tersebut bertujuan untuk menyiapkan siapa saja yang akan mewakili Polinela dalam lomba MTQ nasional. Se­lain diberi amanah untuk menyeleksi siapa saja yang akan dikirim, UKM Al-Banna juga diberi amanah untuk memberi pembinaan bagi peserta yang lolos seleksi agar maksimal dalam mengikuti lomba. Pembinaan akan dilaksanakan setelah bulan Ramadhan.
Juri untuk seleksi peserta diambil dari Internal kampus. Untuk cabang lomba Fahmil Qur’an dan Debat Bahasa iInggris dinilai oleh Bpk.Ansori dari Teknologi Pangan, cabang lomba Tilawatil Qur’an, Tartil Qur’an, dan Hifdzil Qur’an dinilai olah Bpk.Arif Makhsun dari Jurusan Ekonomi dan Bisnis, serta untuk cabang lomba Khotil Qur’an dinilai olah Nata dari Staff Akademik. 
Hingga sekarang belum ada kejelasan siapa saja yang akan dikirim mengikuti lomba MTQ Nasional. Salah satu panitia dari seleksi menyatakan bahwa nama-nama pemenang sudah ada, tetapi belum bisa diumumkan karena dikhawatirkan apabila ada pemenang yang tidak diberangkatkan akan kecewa sebab hal ini masih menuggu keputusan dari Direktur.
“Siapapun yang akan mewakili Polinela dalam lomba MTQ Nasional, saya berharap kita bisa memegang juara disana untuk mengharumkan Polinela dikancah Nasional dan merupakan mimpi terbesar keluraga besar Polinela,” tuntas Tekad Karyono  selaku Ketua Umum UKM Al-Banna. (*Tri Asdi)



Sistem Baru Pemilihan Gubernur HMJ

Reporter : Reni Aprilia

                 Oky Saputra

Sukma_Polinela; Politeknik Negeri Lampung (Polinela) adalah perguruan tinggi vokasi yang meluluskan mahasiswa-mahasiswi berpotensi. Terdapat 5 jurusan diantaranya, Budidaya Tanaman Pangan, Budidaya Tanaman Perkebunan, Teknologi Pertanian, Peternakan, serta Ekonomi dan Bisnis, yang didalamnya tersebar berbagai Program Studi. Dalam setiap jurusan tentunya memiliki seorang ketua yang memimpin didalamnya. Ketua tersebut biasa dikenal dengan Gubernur Himpunan MahaSiswa Jurusan (HMJ).
Berbeda dari periode sebelumnya yang pada saat pemilihan gubernur dilakukan secara musyawarah. Untuk periode tahun depan dilakukan dengan metode baru yaitu dengan cara Pemilihan Raya (Pemira). Sehingga pemilihan secara Pemira tidak hanya dilakukan untuk pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, namun juga diterapkan dalam pemilihan Gubernur dan Legislatif anggota MPM.
Hal ini dilakukan karena pemilihan yang dilakukan secara musyawarah dinilai tidak efektif dan kualitas serta kuantitasnya tidak efisien sehingga kurang selektif. Selain itu juga tercium kecurangan dalam demokrasi seperti intimidasi, tidak semua mahasiswa memilih, dan tidak semua mahasiswa mengaspirasikan pendapat, sehingga dengan cara pemilihan seperti itu suara vocal yang akan menang. “Didalam demokrasi itu sangat dilarang adanya itimidasi jadi coba kami perbaiki pada sistem pemilihan gubernur tadi, untuk memilih gubernur secara Pemira sehingga pelaksanaan demokrasi ini secara utuh mutlak, bebas, jujur, rahasia, dan tidak ada musyawarah,” ujar Sigit Pramono selaku ketua umum MPM saat ditemui diruangannya.
Perubahan ini mulai akan dilaksanakan untuk periode depan. Untuk pelaksanaannya dilakukan dengan dua tahap yaitu tahap pertama pemilihan Gubernur dan Legislatif anggota MPM yang dilakukan dimasing-masing jurusan secara serentak pada saat apel jumat. Sedangkan untuk pemilihan Presiden dan Wakil Presiden dilakukan oleh seluruh mahasiswa Politeknik Negeri Lampung secara serentak pada saat apel hari senin.  Sehingga ada perubahan mekanisnisme antara perekrutan pemilihan Gubernur dan Legislatif anggota MPM dengan Presiden mahasiswa dan wakil presiden mahasiswa sama, perbedaannya hanya terletak pada persyaratan. Untuk saat ini karena banyaknya minat mahasiswa yang ingin mencalonkan diri namun terkendala IP/IPK tidak mencukupi sehingga kemampuan berorganisasi juga diperlukan. Sedangkan untuk calon Gubernur tergantung kebijakan dari masing-masing jurusan.
Rencana tentang perubahan tersebut telah disosialisasikan kepada Gubernur dan Wakil Gubernur namun ada yang berpendapat sepakat dan ada yang berpendapat tidak sepakat. “Kalau saya sebenarnya setuju dengan kebijakan baru tersebut, tetapi penerapannya jangan sekarang karena jurusannya belum siap. Saran saya dengan musyawarah tetapi caranya  yang lebih dibagusin, seperti ditambahin dengan debat kandidat, kampanye. Selain itu, karena saya belum tahu bagaimana pendapat mahasiswa jurusan saya”, tutur Fikri Alif Utomo selaku Gubernur   Budidaya Tanaman Pangan.  Akan tetapi  pada dasarnya hal itu ada dalam peraturan ART Pasal 1 Point 2 yang menyebutkan mengenai pemilihan gubernur, cara pemilihannya dan pelaksanaannya serta tata caranya diserahkan pada mahasiswa.
“Tetapi dengan cara seperti itu masih terdapat multi taksir, maksudnya adalah bisa ditaksirkan kemana-mana, umum cangkupannya jurusan atau HMJ ini tidak memiliki dasar hukum untuk melaksanakan Pemira. Namun, lucu juga kalau Gubernur yang menentukan untuk penggantinnya, itu bisa dikatakan pengotoran demokrasi, atau bisa dikatakan permainan Politik” tambah Sigit.
Untuk kepanitian yang mengatur tentang pemilihan yang dilakukan secara pemira ini adalah panitia yang Independent.  “Untuk tahun ini setelah adanya kesepakatan atau ketuk palu, untuk  panitia adalah panitia khusus dari seluruh mahasiswa yang mendaftar menjadi panitia, syarat-syarat yang  dicantumkan tertera dalam UU Pemira. Panitia direncanakan sekitar  50 orang untuk panitia Gubernur, Legislative dan panitia Presiden serta Wakil Presiden”, pungkas Sigit. (*Tri Asdi)

Peluncuran Jaraka untuk Polinela

Reporter: Reni Aprillia

Sukma_Polinela; Informasi berperan penting didunia dalam segala bidang. Tak dipungkiri seluruh masyarakat dibelahan dunia membutuhkan suatu informasi. Didunia pendidikan infor­­masi mempunyai andil yang cukup tinggi, khususnya untuk ma­hasiswa. Suatu in­for­ma­si sangat diperlukan secara cepat dan efisien. Oleh sebab itu salah satu Perguruan Tinggi di Lampung yaitu Politeknik Ne­geri Lam­pung (Polinela) men­cetuskan sumber informasi bagi setiap mahasiswa berbasis online mengenai civitas akademik yang disebut dengan JARAKA (Jaringan Akademik).
 Jaraka berawal dari SIAKAT. Jaraka berisi beberapa sistem yang berhubungan langsung dengan aktivitas akademik seperti aplikasi Digital Library, Alumni, hasil Study, Prosedur Akademik, Peraturan Akademik, Pendaftaran Wisuda, Lowongan Kerja, dan masih banyak aplikasi didalamnya. Dengan adanya Jaraka dapat memudahkan ma­hasiswa untuk memperoleh ber­bagai informasi dari segala sumber salah satu contohnya adalah aplikasi alumni. Karena ketika kita sudah menjadi alum­ni nantinya kita tetap dapat melihat data-data sebelumnya serta informasi-informasi baru yang bermanfaat.
Hal tersebut juga telah diungkapkan Bapak Eko Win Kenali selaku Kapuskom, dia mengatakan, “Puskom berfikiran bagaimana dengan 1 login bisa mendapatkan semua, berupa data akademik, bisa melihat judul tugas akhir kakak tingkat , melihat hasil dosen, bahkan sampai nanti menjadi alumni hanya memakai login itu”.
Sebelumnya Polinela tidak mempunyai Siakat, yang ada hanyalah program bersifat Local yang hanya bisa diakses oleh BAK, sedangkan untuk dosen dan mahasiswa hanya dapat melihat melalui selembar kertas yang dicetak. Pembuatan Jaraka ini merupakan usulan dari institusi (Direksi) dan dikhususkan untuk perorangan, dengan kata lain kita hanya dapat melihat data perorangan.
Jaraka mulai diuji coba tahun 2012 lalu dan diaplikasikan pada sebagian mahasiswa yaitu mahasiswa Program Study Manajemen Informatika (MI). Pada tahun 2013 Jaraka diaplikasikan pada Jurusan Ekonomi dan Bisnis dengan 3 Program Study yaitu Manajemen Informatika, Akuntansi dan Agribisnis. Setelah uji coba berhasil dan keamanan tidak ada masalah, maka pada tahun 2014/2015 dijalankan untuk seluruh mahsiswa, namun sosialisasi masih kurang. Jaraka mulai diresmikan dan diekspos pada bulan Maret 2015. Saat ini sosialisasi Jaraka untuk mahasiswa dapat dilihat melalui promosi banner, Web Polinela, maupun Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Polinela.
Untuk dapat menggunakan aplikasi Jaraka, terlebih dahulu mendaftar melalui PUSKOM (Pusat Komunikasi) untuk mahasiswa lama, namun untuk mahasiswa baru angkatan 2015 nanti akan secara otomatis. Hal tersebut dikarenakan langsung disosialisasikan saat PSP2. Kita dapat melihatnya melalui Web “Jaraka.polinela.ac.id”. Jaraka bertujuan menyebarkan informasi dari berbagai sumber dan bagaimana caranya di Share ke dosen dan mahasiswa. Jaraka juga akan mengalami perkembangan atau inovasi baru setiap tahunnya.
Untuk mencapai hasil yang baik tentunya tidak ada jalan yang mudah, “Masalah susah, nggak susah, pasti susah, butuh waktu lama, karena kendalanya dari tenaga dengan Programer yang terbatas”, tambah Eko.
Tanggapan positif didapat dari Direktur Polinela Ir. Joko SS Hatono M.T.A. mengenai jaraka, menurutnya Jaraka harus segera disosialisasikan dan segera digunakan. Adanya Jaraka juga sangat bermanfaat khususnya bagi ma­hasiswa. Hal tersebut juga ditanggapi oleh Randy Estian salah satu mahasiswa Program Study Manajemen Informatika semester 4 yang mengatakan bahwa, ”Jaraka ini penting, apa lagi diterapkan untuk seluruh mahasiswa di Polinela dan Jaraka ini baik untuk dikembangkan. Tidak setiap mahasiswa harus menunggu untuk melihat hasil Study di kampus, tetapi dapat dilihat dengan Via Online dan datanya juga dapat di download”.
Berbagai harapan diluncurkan oleh Bapak Eko sekaligus mentuntaskan pe­m­­bicaraan mengenai Jaraka ini, “Dapat digunakan maha­siswa, memudahkan mahasiswa, dan dapat membantu kegiatan akademik mulai dari mahasiswa serta dosen”. (*Tri Asdi)

Ketidak Hadiran Dosen Saat Praktikum

Reporter : Tri Asdi

Sukma_Polinela; Polinela dalam pengajarannya menggunakan sistem vokasi, dimana presentase kegiatan praktikum lebih besar dibandingkan dengan teori. Saat praktikum atau setiap satu mata kuliah biasanya ada tim dosen yang terdiri dari dua orang dosen dan satu orang PLP. Dalam 16 kali pertemuan dengan pembagian minggu 1-8 dosen pertama atau penanggung jawab (PJ) dan minggu ke 9-16 dosen ke dua. Tetapi, untuk PLP wajib sepenuhnya untuk selalu mengikuti kegiatan praktikum dari awal hingga akhir semester.
Karena Setiap mata kuliah telah ada tim dosen,  jika dosen yang seharusnya mengajar tidak dapat hadir dapat digantikan dengan dosen kedua. Setidaknya untuk mengawas kegiatan praktikum salah satu dosen dapat hadir saat praktikum.  Tetapi jika kedua dosen berhalangan untuk hadir, dapat langsung menghubungi PLP dan langsung memulai praktikum tanpa adanya dosen.
“Seharusnya tugas dosen yang memberikan teori saat akan praktikum, baru PLP yang membantu pelaksanakan secara teknis. Karena wilayah PLP untuk yang kegiatan secara teknis bukan yang secara teoritis. Selain itu juga karena bukan bagian PLP sehingganya tidak berhak dan tidak wajib”, ujar Bandi salah seorang PLP.
Terkadang dosen memilki kesibukan lain selain mengajar. Sehingga dosen berhalangan dalam kegiatan mengajar secara teoritis ataupun praktikum. Jadi, dosen dapat memberikan tanggung jawab kepada PLP jika dosen berhalangan hadir saat praktikum. Dalam penjejangan PNS terdapat pegawai structural, fungsional, dan biasa. Orang-orang yang tergolong pegawai structural yaitu orang yang memegang jabatan seperti Direktur, Wakil Direktur, serta jajaran lainnya. Untuk orang yang tergolong dalam pegawai fungsional seperti para dosen. Tetapi, PLP sekarang tidak seperti teknisi saat dulu yang hanya masuk golongan biasa. Saat ini, PLP telah masuk fungsional jadi dosen telah menganggap PLP mampu memberikan bahan ajaran.
Pegawai-pegawai fungsional seperti para dosen, memiliki tugas lain selain mengajar dan dilakukan diluar jam kuliah. PLP sekarang, yang tadinya hanya pegawai biasa sudah menjadi fungsional. Jadi artinya, mereka sudah memilki tugas diluar tugas mereka yang hanya mengawasi saat praktikum berlangsung. Sehingga saat ini, beberapa dosen telah memberikan ruang kepada PLP karena itu sudah menjadi tugas mereka saat ini yang telah menjadi pegawai PNS fungsional.
”Dosen wajib datang saat praktikum, tetapi tidak harus keduanya. Selain itu, karena PLP sudah menjadi pegawai fungsional sehingga sebagian tugas dapat diserahkan kepada PLP. Karena mereka butuh KUM, yang merupakan penilaian agar PLP dapat melakukan penjejangan. Cara penaikan pangkat PLP sudah sama seperti dosen bedanya, kalau dosen harus ada penelitian, pengabdian, pendidikan (mengajar)”, ungkap Chandra Utami W.
Setiap pertemuan dosen mengisi absensi yang setiap minggunya akan dikumpulkan. Jika dosen tidak hadir maka secara otomatis absensi tidak terisi. Hasil dari keseluruhan absensi akan ditampilkan saat rapat yudisium, yang biasanya dilaksanakan pada akhir semester. Sanksi yang diberikan lebih mengarah kepada sanksi sosial, rasa malu dan teguran dari kepala jurusan. Selain itu, jika mahasiswa ingin melaporkanya kepada wakil direktur satu dengan bukti yang cukup hal tersebut akan dipertimbangkan dalam forum, bahkan ada ke­mungkinan jika dosen tersebut dapat diberhentikan. (*Tri Asdi)

Kepastian Gedung Kuliah 5 Lantai

Reporter: Denok Cinde Melati

Sukma_Polinela; Pembangunan gedung 5 lantai adalah salah satu rencana Politeknik Negeri Lampung (Polinela) dalam membangun kampus hijau Polinela dan sekaligus mencapai Visi & Misi nya. Namun, banyak Mahasiswa Politeknik Negeri Lampung yang penasaran mengenai kapan teralisasinya pembangunan gedung 5 lantai yang sudah sejak dua tahun terakhir ini dibicarakan. Banyak dari mereka yang mempertanyakan mengenai plang di lahan Projas, yang bertuliskan “Disini akan dibangun gedung lima lantai”. Pada Diskusi Internal yang lalu (04/4), Direktur Polinela mengatakan bahwa rencana pembangunan gedung itu hanya akan teralisasi menjadi 3 lantai bukannya 5 lantai karena minimnya pendanaan. Akan tetapi, saat hal tersebut ditanyakan kepada pudir 2, diungkapkan bahwa pembangunan gedung 5 lantai itu sedang diproses dan akan teralisasi pada tahun ini. “Mengenai hal itu, sedang dalam proses dan tetap akan dibangun 5 lantai sama seperti rencana awal karena jika pembangunan dibuat menjadi 3 lantai akan dianggap tidak selesai”, ujar  Ir.Nurman Abdul Hakim, M.P. selaku Wakil Direktur (Wadir) 2 saat ditemui diruangannya.Pembangunan gedung tersebut akan tetap direalisasikan menjadi 5 lantai hanya saja ukurannya yang diperkecil. Saat ditanyakan mengapa tidak sesuai dengan rencana awal, beliau menegaskan bukannya tidak sesuai dengan rencana awal, tetapi karena minimmya dana dan jika ada tambahan dana maka akan dibangun gedung lagi.Dari beberapa mahasiswa berpendapat atas pembangunan Gedung 5 Lantai tersebut. Salah satunya adalah M.Ariful Aimma dari Program Studi Perikanan, “Menurut saya, gedung 5 lantai itu strategis sih dan itu bagus juga dibangun disitu. Cuma sarannya, kalau bisa menjadi Icon Polinela disitu. Saya pernah Browsing diinternet, disitu saya menemukan rancangan Gedung 5 Lantai Polinela tapi disitu gedungnya besar banget dan mewah cuman ketika pembangunan saya tidak tau juga karena lahannya cuman segitu. Harapannya sih, disitu menjadi 5 lantai dan sesuai dengan tema nya itu apa yang dibentuk itu menjadi bagus dan terbaik”.Pendapat yang diungkapkan oleh mahasiswa lainnya, “Menurut saya sangat baik, karena kondisi yang minim dan kurang dalam ruang kuliah, sehingga sangat penting juga pembangunan itu segera dilaksanakan. Namun menjadi pertanyaannya, tergesik dipikiran mahasiswa ketika didiskusi Internal lalu dari direktur beliau mengatakan bahwa kita membangun gedung 3 lantai, namun setelah beberapa bulan dari Diskusi Internal tersebut muncul sebuah papan yang tertuliskan “Pembangunan Gedung Kuliah 5 Lantai”. Disitu menjadi pertanyaan besar bagi mahasiswa, ketidaksesuaian perkataan dari direktur dengan kondisi yang akan dilaksanakan. Namun, dari kita dan mahasiswa mendukung penuh atas pembangunan gedung 5 lantai atau gedung kuliah. Namun, kita berharap gedung yang akan kita bangun ini, sesuai yang kita harapkan dan sesuai prosedur-prosedur yang berlaku atau aturan-aturan berlaku sehingga itu membuat kampus Politeknik Negeri Lampung menjadi kampus yang terbaik dan bisa menjadi patokan-patokan  untuk membuat kampus kita menjadi yang terbaik di Indonesia”, tutur Tekat Karyono selaku Ketua Umum UKM Al-banna saat ditemui diruangannya.Diakhir pembicaraan Pudir 2 mengtakan, “Kenapa ditanyakan??  Untuk mahasiswakan tinggal make gedung saja”. Jadi, pembangunan akan tetap dilaksanakan sesuai dengan rencana, hanya saja pembangunannya hanya separuh dari rencana awal, tetapi tetap 5 lantai dan akan terealisasi tahun ini karena sedang diproses.Harapan dari mahasiswa agar pembangunan tersebut cepat terealisasi dan cepat dibangunan, agar mahasiswa Polinela dapat menggunakan fasilitas gedung baru tersebut. Sehingga, mahasiswa Polinela lebih nyaman dalam pembelajaran kuliah. Ditambah lagi mahasiswa Polinela yang kian tahun bertambah. (*Tri Asdi)